Minggu, 18 Oktober,2026

Berawal dari Petani, Faisol Kembangkan Usaha Kerupuk Pasir di Jombang

Kediriwae, jombang – Mohammad Faisol (64), warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berhasil mengembangkan usaha kerupuk goreng pasir setelah sebelumnya bertahun-tahun bekerja sebagai petani. Usaha yang dirintis pada 2005 dengan modal pinjaman Rp1 juta itu kini mampu mengolah 4 hingga 5 kuintal tepung tapioka per hari.

Faisol mengawali usahanya di tengah ketidakpastian hasil panen yang selama ini menjadi sumber penghidupannya. Ia kemudian mencoba peruntungan di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan memproduksi kerupuk goreng pasir.

“Waktu itu, saya hanya punya tekad. Tidak tahu ke mana usaha ini akan membawa, tapi saya harus mencoba,” kenang Faisol, Sabtu (17/10/2026).

Untuk memulai usaha tersebut, Faisol mengajukan pinjaman modal sebesar Rp1 juta ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) pada 2005. Dengan modal itu, ia mulai memproduksi kerupuk goreng pasir menggunakan sekitar 1 kuintal tepung tapioka per hari.

Seiring perkembangan usaha, Faisol kembali mengajukan pinjaman pada 2010 untuk membeli mesin produksi. Penggunaan mesin tersebut membantu meningkatkan kapasitas produksi hingga kini mencapai 4–5 kuintal tepung tapioka per hari.

Produk kerupuk goreng pasir buatannya tidak hanya dipasarkan di wilayah Jawa Timur, tetapi juga menjangkau Jawa Tengah, Jakarta, Bandung, hingga Sorong, Papua.

Faisol mengatakan, akses permodalan menjadi salah satu faktor yang membantu pengembangan usahanya. Ia mengaku tetap menjadi nasabah BRI sejak awal merintis usaha karena menilai proses pengajuan pinjaman dan pelayanan yang diterimanya memudahkan kebutuhan pengembangan produksi.

“Saya senang menjadi nasabah BRI karena prosesnya mudah, pelayanannya sangat baik, dan mereka selalu mendukung pengembangan usaha saya,” ujarnya.

Ia menuturkan, ketika limit pinjamannya mencapai Rp100 juta, Kepala Unit BRI Ngoro mendampinginya untuk mengajukan pinjaman dengan plafon lebih besar ke kantor cabang. Saat ini, limit pinjaman yang dimiliki Faisol telah mencapai Rp470 juta.

Perkembangan usaha Faisol berlangsung di tengah keberadaan Desa Badang yang dikenal sebagai salah satu sentra kerupuk goreng pasir di Kabupaten Jombang. Berdasarkan informasi yang disampaikan, terdapat 17 pengusaha aktif di desa tersebut yang menjalankan usaha sejenis.

Keberadaan usaha kerupuk goreng pasir turut membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Perluasan pemasaran produk juga membuat kerupuk produksi Desa Badang menjangkau konsumen di sejumlah wilayah di luar Jawa Timur.

“Bagi saya, ini bukan sekadar soal keuntungan. Ini tentang memberikan kesempatan bagi warga sekitar, melestarikan produk lokal, dan membuktikan bahwa usaha keras bisa membuahkan hasil,” kata Faisol.

Perjalanan Faisol menunjukkan bagaimana usaha rumahan dapat berkembang melalui peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar. Namun, keberlanjutan usaha juga bergantung pada kemampuan pelaku UMKM menjaga kualitas produk, memenuhi permintaan pasar, dan mengelola pembiayaan secara berkelanjutan. (*)

BERITA TERBARU