Kediriwae – Ribuan pengunjung memadati acara gathering “Sablon Jawa Timuran” ke-7 (SJT 7) yang berlangsung di Tirtoyoso Park, Kota Kediri, Jawa Timur.
Ketua Panitia Sablon Jawa Timuran Misbahul Munir mengungkapkan kegiatan ini sengaja digelar. Acara ini mempertemukan antara seniman sablon, pabrik kain, hingga konsumen. Mereka bisa langsung transaksi sesuai dengan kebutuhan masing-masing dengan melihat langsung contoh kain dari pabrik yang ikut serta dalam acara ini.
“Kami gelar silaturahmi ini. Para tukang sablon waktunya perbarui ilmu, silaturahmi dan belajar. Mereka bisa transaksi. Ada yang saling lempar kerjaan antara pabrik dan konsumen, kemudian konsumen dan temannya,” ungkapnya di Kediri Sabtu (7/12/2024).
Dirinya menyebut dalam kegiatan ini ada lebih dari 1.700 pengunjung. Adapun tenant yang terlibat ada 15 tenant serta 60 supporting dengan berbagai macam produknya seperti tekstil, kemudian jualan tinta maupun yang jualan alat sablon.
Kegiatan itu, kata dia, bukan hanya diikuti seniman sablon dari Kediri tapi juga berbagai daerah di Jawa Timur. Sedangkan untuk perusahaan tekstil ada beberapa dari Bandung.
Salah seorang seniman sablon Gerri mengaku jauh-jauh dari Bandung ikut serta acara ini. Menurutnya perkembangan usaha sablon terlebih lagi di Jatim cukup bagus.
“Sablon semua ada standarisasinya dan kami bisa berbagi. Kegiatan ini juga luar biasa, semunya kompetitor tapi bisa bergabung,” kata Gerri.
Sementara itu, Direktur Sales dan Marketing “Fabriku” Martin Susanto mengatakan kegiatan ini sangat positif, sebab perusahaan juga bisa mengenallan berbagai produknya.
“Senang hari ini bisa bertemu teman-teman dari Jatim, bisa berbagi dan saling mengenal,” kata produsen kain asal Bandung, Jawa Barat itu.
Martin menambahkan terkait dengan sablon, juga berbicara soal seni di dunia cetak saring. Dengan itu, kreativitas tidak pernah bisa hilang.
“Manusia pasti ingin menciptakan hasil karya, dia punya ide, punya imajinasi. Kami hadir untuk memberikan support , bahan yang bisa dipakai oleh teman-teman pelaku UMKM,” kata dia.
Pemilik Usaha Senjaya SPS dari Tulungagung Nur Cahyo mengatakan kreativitas usaha ini juga semakin bervariasi. Ia menyebut, untuk bisnis sablon antara manual dan digital hingga kini masih imbang.
“Saat ini 50 persen manual 50 persen digital. Yang datang ke kami juga banyak yang manual,” kata dia. (*)



