Sabtu, 2 Mei,2026

Penambang Pasir di Kediri Pending Menambang, Imbas Hoaks Bayar Upeti

Kediriwae – Para penambang pasir di bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri, Jawa Timur, sudah sekitar satu minggu ini berhenti sementara menambang pasir. Hal itu karena imbas berita hoaks yang menyebut mereka membayar upeti untuk bisa menambang.

Marlan, salah seorang penambang di area Semampir, Kota Kediri, mengaku adanya informasi haoks itu meresahkan ia dengan para penambang lainnya.

Ia menyebut, selama ini mata pencaharian warga adalah mencari pasir di Sungai Brantas. Proses mencari pun adalah dengan cara tradisional dan bukan dengan mesin, sehingga tidak benar bahwa harus membayar upeti untuk dapat menambang pasir.

“Warga di sini penghidupannya dari menyelam cari pasir. Mereka semua ini penambang tradisional bukan mekanik, sudah turun temurun sejak mbah sampai turun ke cucu, cari makannya ya di sini,” kata Marlan, Rabu (22/1/2025).

Ia pun menambahkan ada sekitar 15 orang yang semua gotong royong dengan menambang pasir. Warga bekerja dari pagi hingga malam dengan cara menyelam dan mengambil pasir.

Setidaknya dari satu hari mencari pasir, bisa mengumpullkan 2-3 truk. Pasir-pasir itu kemudian diangkut untuk memenuhi permintaan dari Kediri saja.

Ia menyebut, satu truk penuh pasir dihargai Rp250.000. Hasil itu kemudian dibagi ke seluruh pekerja yang ikut menambang. Upah itu pun diberikan setiap hari selesai pasir terjual.

Dirinya menyebut, adanya informasi hoaks itu membuat para penambang serba salah. Jika tidak mencari pasir, warga juga tidak dapat penghasilan untuk kebutuhan keluarga.

Ia pun menambahkan, para penambang bukan hanya mencari pasir saja, tapi juga turut membersihkan sungai dari berbagai sampah. Banyak sampah ikut diangkat seperti pampers.

“Kami di sini sama sekali tidak merusak, tidak sesuai apa yang diberitakan muncul kemarin. Penambang pasir manual tidak merusak jadi berita yang muncul itu hoaks sekali. Jadi saya minta tolong agar warga di sini bisa mencari nafkah dengan tenang, tidak ada berita berita yang negatif,” kata Marlan.

Selain membuat aktivitas penambang berhenti sementara, aktivitas warung di sekitar juga ikut terdampak. Sejumlah warung yang biasanya ramai oleh para penambang kini sepi pelanggan.

“Saya berharap diluruskan berita katanya di sini memberi upeti kepada APH (aparat penegak hukum), itu tidak benar sekali. Jangan sampai kita diadu sama aparat. Padahal di lapangan kenyataanya tidak ada,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang warga setempat Zaenal Arifin mengatakan adanya aktvitas menambang pasir justru membantu perekonomian mereka.

“Warga di sini justru beruntung mas karena pedagang yang ada disini justru laku semua bisa membantu perekonomian,” ujar Zaenal. (*)

BERITA TERBARU