Kediriwae – Relawan Suket Teki Nusantara mengirimkan bantuan untuk korban angin puting beliung yang terjadi di lingkungan Wonosari, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. Puluhan rumah warga di daerah itu rusak.
Total terdapat 29 rumah warga rusak, di antaranya atap rumah jebol, genteng berterbangan. Ada juga sebagian tembok hancur, sebuah warung bambu ambruk akibat peristiwa itu.
Ketua RT 02 Kelurahan Bujel, Epri Jayanti menceritakan, peristiwa pada Senin (11/12/2024) petang itu terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja, di tengah guyuran hujan deras angin kencang menyapu kawasan tersebut.
“Kejadiannya cepat sekali, angin langsung nyapu atap rumah warga. Ada yang luka ringan akibat tertimpa reruntuhan atap,” ungkapnya Epri Selasa (12/11/2024).
Epri menambahkan ada sedikitnya empat rumah warganya yang rusak parah, sehingga tidak bisa ditinggali. Untuk sementara waktu, mereka terpaksa mengungsi ke rumah tetangganya.
“Ya sementara mereka yang rumahnya rusak parah harus ngungsi ke tetangga. Itu warung juga roboh total kena angin,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Harian Relawan Suket Teki Nusantara, Vinanda Prameswati juga sudah datang ke lokasi dan memberikan bantuan bahan pokok untuk korban terdampak bencana tersebut.
“Saya bersama Relawan Suket Teki Nusantara yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan ingin menyambung rasa dengan warga di Bujel, serta dengan solidaritas kami, kami ingin membantu meringankan beban dengan adanya bencana puting beliung ini,” kata Vinanda.
Vinanda memastikan tak ada unsur politik dalam aksinya ini. Suket Teki Nusantara sejak berdiri di tahun 2008 terus bergerak membantu masyarakat dengan semboyan khas mereka ‘Urip Sak Paran Paran Seduluran Sak Lawase’ yang artinya dapat hidup dimanapun, persaudaran dan kekeluargaan selamanya.
“Tidak ada (unsur politik). Ini yang selama ini kita lakukan sejak 2008,” tegas Vinanda.
Tim juga membantu mengevakuasi reruntuhan atap bangunan yang roboh. Setelah bencana pada Senin petang, listrik dipadamkan, sebagai upaya untuk mengurangi risiko bahaya. (*)



