Kediriwae – PT Kereta Api Indonesia (Persero) meresmikan Monumen Lokomotif C 1140 di Stasiun Kediri, Jawa Timur. Tempat ini menjadi jujukan wisata baru di Kota Kediri.
Direktur Utama PT KAI Didik Hartantyo menjelaskan peresmian ini bagian dari perayaan HUT ke-79 PT KAI dengan memberikan hadiah istimewa berupa Monumen Lokomotif C 1140 kepada masyarakat Kota Kediri.
Ia menyebut, pendirian monumen ini adalah bentuk penghormatan kami terhadap sejarah perkeretaapian. Monumen ini menjadi simbol perjalanan KAI dari era lokomotif uap menuju era kereta modern.
“Kami berharap masyarakat dapat lebih menghargai dan memahami kontribusi kereta api dalam perkembangan perekonomian dan transportasi nasional,” jelasnya Jumat (21/9/2024).
Pendirian monumen ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan aspek estetika stasiun dan edukasi, tetapi juga merupakan langkah strategis dalam peningkatan pelayanan di Stasiun Kediri.
Selain monumen lokomotif uap, PT KAI telah melakukan upaya penataan kawasan stasiun kediri yang sejalan dengan rencana penataan Kota Kediri guna meningkatkan pelayanan bagi pengguna jasa KA dengan memperluas area parkir dan menyediakan akses jalan baru alternatif di lahan KAI untuk mengoptimalkan arus lalu lintas, meningkatkan keselamatan dan memberikan kemudahan mobilitas bagi warga kediri khususnya di area sekitar Stasiun Kediri.
Monumen ini juga menjadi daya tarik tersendiri, semakin menambah titik wisata di Kota Kediri.
Lokomotif C 1140 adalah salah satu dari seri lokomotif uap C11 yang pernah beroperasi di wilayah Daop 7 Madiun. Lokomotif Uap seri C11 ini didatangkan oleh Staatsspoorwegen (SS) antara tahun 1879-1891 dan dioperasikan untuk menghubungkan kota-kota besar di wilayah Jawa timur dan berperan penting dalam pengembangan ekonomi dan transportasi pada masanya.
Dengan diresmikannya Monumen lokomotif ini, Stasiun Kediri diharapkan dapat menjadi pusat transportasi yang fungsional dan menarik dari sisi sejarah serta estetika. PT KAI terus berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian warisan budaya perkeretaapian. (*)



