Kediriwae – Perum Jasa Tirta (PJT) I mendukung pelaksanaan Zero Waste Academy (ZWA) yang diselenggarakan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) sebagai ruang belajar strategis dalam penguatan pengelolaan sampah dari sumber. Kegiatan bertujuan mendorong perlindungan Sungai Brantas dari hulu hingga hilir melalui pendekatan sistemik berbasis pencegahan timbulan sampah di tingkat rumah tangga dan komunitas.
Direktur Utama PJT I, Fahmi Hidayat menyampaikan bahwa keterlibatan PJT I dalam Zero Waste Academy merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya air.
“Perlindungan sungai tidak dapat hanya mengandalkan upaya di badan air, tetapi harus dimulai dari pengelolaan sampah di sumbernya,” kata Fahmi dalam keteranganya di Kediri, Kamis (5/2/2026).
Melalui dukungan terhadap Zero Waste Academy, ia ingin mendorong penguatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan agar mampu mengelola sampah secara bertanggung jawab.
“Muaranya yang diharapkan bersama adalah beban pencemaran ke sungai berupa sampah dapat ditekan secara signifikan,” ungkapnya.
Aulia Agusta Alamsjah dari PJT I yang juga turut menjadi narasumber dalam agenda workshop Zero Waste Academy tersebut juga membagikan pengalaman lapangan PJT I dalam pengendalian sampah di badan sungai, termasuk pemasangan trash barrier di titik-titik strategis untuk mencegah sampah masuk ke infrastruktur penting sumber daya air.
Lebih lanjut, ia mengatakan PJT I selama ini menangani sampah yang terlanjur masuk ke sungai melalui pengumpulan rutin, kemudian diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Salah satu contoh nyata terdapat di Waduk Sengguruh di Kabupaten Malang, di mana volume sampah yang ditangani mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan sekitar 57,1 persen limbah padat di wilayah Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga. Sementara cakupan layanan persampahan di wilayah pedesaan masih terbatas, yakni sekitar 15 persen.
Kondisi tersebut, kata dia, berkontribusi terhadap kebocoran sampah ke sungai serta meningkatkan risiko pencemaran, termasuk temuan mikroplastik pada ikan di Sungai Brantas.
“Praktik ini menjadi pembelajaran penting bagi para peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa mengenai tantangan dan penanganan sampah di badan sungai. Melalui dukungan terhadap Zero Waste Academy, PJT I menegaskan langkah upaya menjaga kualitas sungai harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu ke hilir dan dari darat ke air,” ungkapnya.
Zero Waste Academy diikuti lebih dari 50 peserta. Mereka berasal dari lebih dari 12 kota/kabupaten di pulau Jawa. Melibatkan unsur pemerintah dari Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan hidup.
Melalui kolaborasi multipihak tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem pengelolaan sampah berbasis pencegahan. Dengan harapan perlindungan Sungai Brantas sebagai sumber kehidupan dapat terwujud secara berkelanjutan. (*)



