Sabtu, 18 April,2026

Inspiratif, Tuna Netra di Kediri ini Hafiz Semangat Berkarya dan Dakwah

Kediriwae – Soni Primawanto (35), seorang tuna netra yang kini tinggal di Desa Cerme, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, mengalami kekurangan di indra penglihat. Kendati begitu, tidak membuatnya patah semangat, justru tetap berkarya dan berdakwah di media sosial.

Soni mengungkapkan dirinya mengalami tuna netra sejak umur tiga tahun. Saat itu, ia mengalami sakit panas hingga berdampak pada indera penglihatnya yang kini tidak bisa melihat.

Bapak satu anak itu menceritakan kisah hidupnya yang penuh lika-liku. Karena tuna netra sejak kecil, ia sempat kesulitan untuk belajar di sekolah khusus. Saban hari saat kecil, ia lebih banyak ikut mengaji di pesantren.

Ia terus belajar dan mengasah kemampuan dengan menghafal ayat-ayat suci Al Quran. Cukup sulit memang, karena hanya mengandalkan indra pendengaran untuk belajar.

Masa kecilnya, dilewati dengan tanpa belajar huruf braile. Namun, dengan menghafal justru memperkuat ingatannya. Ia pun bisa dengan mudah menghafal ayat suci Al Quran sejak usia dini.

Tahun demi tahun berlalu, ia lalui. Dirinya pun konsisten memberikan ilmu yang didapatnya dengan mengajari anak-anak kecil di desanya.

Dengan keterbatasan yang ia punya, tak menyurutkan semangatnya mengabdi. Ia pun cukup aktif di daerahnya dengan kegiatan sosial keagamaan hingga kemudian dirinya mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Pada 2002 akhir, perangkat desa mengirimkannya ke Malang untuk belajar. Ia pun mulai mengenal huruf braile dan mulai mempelajarinya.

Ia belajar sangat antusias. Diberikan kesempatan menimba ilmu adalah sesuatu anugerah yang luar biasa baginya. Ia pun bisa membaca dan mendengar.

Selain diajari membaca, ia pun diajari keterampilan memijat di sekolah tersebut. Keterampilan itu terus ditekuninya hingga ia pernah menjadi perwakilan untuk dikirim ke Jakarta.

“Di Malang saya lulus tiga besar dikirim ke Jakarta. Lalu kerja di Semarang, Jogjakarta, Surabaya, lalu kembali ke Malang lagi buka praktik,” katanya Minggu.

Di Malang, Soni mengaku membuka usaha pijat refleksi. Rupanya jasa memijat yang dimilikinya ini diminati banyak orang. Banyak pelanggan yang memanfaatkan jasanya, membuat tubuh jadi segar lagi usai capai beraktivitas.

Dirinya hanya khusus menerima pijat dari laki-laki. Untuk tarif tak dipatoknya, seikhlasnya yang diberikan.

Kendati memijat menjadi mata pencaharian, tak membuat Soni kekurangan. Justru dengan keterampilan yang dimilikinya, ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Saat tinggal di Malang, ia pun masih aktif komunikasi dengan para guru dan rekan-rekannya di pesantren yang ada di Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Hingga kemudian ia mendapatkan kabar gurunya wafat.

Soni memutuskan untuk pulang setelah diberi amanat untuk menjaga pesantren salaf yang ada di Desa Cerme, Kecamatan Grogol tersebut.

Di pesantren itu, dahulu santrinya hingga ratusan orang dari berbagai daerah. Sejak sang kiai wafat, pesantren kini sepi. Ia pun diberi amanat menjaganya.

Dengan membawa keluarga kecilnya, istri serta anak yang masih usia 10 tahun, ia pun memutuskan untuk ke Kediri, membangun kehidupan baru setelah dari Malang. Menempati bangunan dengan panjangnya 100 meter dan lebar 60 meter cukup sebagai lokasi berteduh keluarganya.

Mengurus pesantren kecil itu, bagi Soni adalah amanat yang luar biasa. Ia pun secara tanggung jawab terus menghidupkan lagi suasana pesantren yang kental dengan aktivitas mengaji.

Sang istri pun, juga tidak keberatan tinggal di pesantren. Keseharian pasangan ini memang banyak di pesantren, namun mereka juga punya rumah pribadi di Desa Jabon, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Bangunan yang berusia tua tak membuatnya takut tinggal di pesantren. Justru itu membuatnya merasa tenang.

Fokus mengaji di bulan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang berkah. Bagi Soni, ia tak ingin kehilangan momentum penuh berkah yang berlangsung satu kali dalam setahun itu.

Selama bulan Ramadhan, ia tetap mendedikasikan diri untuk berdakwah dan bekerja. Pekerjaan utamanya di bidang jasa memijat tetap dilakoninya di bulan Ramadhan ini.

Saban hari, ia membuka praktik di rumah mulai jam 07.00 WIB hingga jam 16.00 WIB. Jeda ke waktu Magrib itu itu kemudian dimanfaatkannya untuk istirahat dan persiapan mengaji bersama santri anak-anak kecil hingga jam berbuka puasa.

Setelahnya, ia kembali membuka praktik memijat usai Shalat Tarawih. Hal itu dilakoninya setiap hari.

Selain mengaji bersama santri anak-anak di mushala, tiap malam Jumat dan Selasa, ia juga ada kegiatan mengaji secara daring.

Soni mengaku memanfaatkan teknologi informasi dengan menggelar pengajian secara daring. Baginya tak mematok apakah ada yang ikut pengajian daring bersamanya. Berapapun jumlah peserta pengajian daring, dirinya tetap sesuai jadwal istikomah mengaji setiap jam 20.30 WIB.

Biasanya setiap kali ia mulai membuka untuk kegiatan mengaji daring, ada sekitar 20 orang hingga 100 orang yang ikut pengajian.

Materinya juga beragam disesuaikan dengan tema. Misalnya, saat bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, hari santri kemudian tentang fiqih dan lainnya.

Sedangkan untuk yang pengajian di mushala, materinya terkait dengan Ramadhan misalnya hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa, apa saja yang membuat semangat berpuasa dan materi lainnya.

“Habis Shalat Tarawih mengajar ngaji di grup pesantren daring. Ini malam Jumat dan Selasa. Bukan hanya saat Ramadhan tapi hari biasa. Ramadhan tetap lanjut, tidak ada perkecualian,” paparnya.

Selain itu, dirinya juga kerap diundang untuk mengisi qiroah di acara-acara seperti pernikahan, pengajian dan lain-lain.

Ia bersyukur keluarga kecilnya mendukung langkah yang dilakukannya dengan tetap berdakwah memanfaatkan internet. Sang istri Yeni Rachmawati pun kerap mengantarnya jika dirinya ada acara di luar rumah.

“Alhamdulillah keluarga mendukung sekali. Karena ini juga edukasi untuk membutuhkan dan yang belajar. Mengaji untuk diri dan orang lain,” katanya.

Bagi Soni, memberikan edukasi agama secara daring tetap menjadi hal yang solutif, terutama bagi remaja yang mereka cenderung menyukai dunia media sosial.

Dengan edukasi secara daring, mereka bisa mendengarkan isi dari materi sehingga bisa tersimpan dalam ingatan mereka dan diharapkan bisa diamalkan dalam kehidupannya sehari-hari.

“Muda-mudi biasanya cenderung ke dunia umum, nasional untuk keagamaan kurang. Jadi, bagaimana mengajak mereka suka. Walaupun tidak 100 persen ingat agama, kami beri motiovasi caranya hidup tenang dengan agama,” ungkapnya. (*)

BERITA TERBARU