Oleh : Amanda Putri Aprilia
Kediriwae – Kalau ngomongin Kota Malang, rasanya nggak bisa lepas dari anak muda dan kreativitas. Dari coffee shop di tiap sudut kota, brand clothing lokal, sampai film pendek dan konten kreatif di media sosial, semuanya tumbuh barengan dengan kehidupan mahasiswa yang dinamis.
Tapi di balik ramainya aktivitas kreatif itu, muncul satu pertanyaan penting apakah industri kreatif di Malang benar-benar sudah punya tempat yang kuat, atau cuma ramai di permukaan saja?
Salah satu sektor industri kreatif yang paling menonjol di Kota Malang adalah kuliner dan coffee shop lokal. Munculnya kedai kopi seperti Toko Kopi Kong Djie Malang, Rokeꢁo Coffee, hingga berbagai coffee shop independen menunjukkan bagaimana gaya hidup dan kreativitas berpadu menjadi kekuatan ekonomi baru.
Tidak hanya menjual produk, tempat-tempat ini juga menjual konsep, desain ruang, dan pengalaman visual yang menarik bagi generasi muda.
Selain itu, industri kreatif berbasis visual dan digital juga berkembang pesat. Banyak anak muda Malang terjun sebagai fotografer, videografer, desainer grafis, ilustrator, hingga content creator.
Komunitas film seperti Malang Film Festival (MAFI Fest) dan berbagai produksi film pendek mahasiswa menjadi bukti bahwa Malang memiliki ekosistem perfilman yang aktif, meski masih terbatas pada pendanaan dan distribusi.
Di bidang fashion dan kriya, Malang juga dikenal dengan brand lokal yang mengangkat identitas budaya, ilustrasi khas, serta produk handmade. Namun, sebagian besar pelaku masih menghadapi persoalan klasik seperti keterbatasan modal, lemahnya manajemen bisnis, serta kurangnya akses
promosi berskala besar.
Banyak brand kreatif berhenti di tahap lokal karena belum mampu menembus
pasar nasional.
Di sisi lain, dukungan pemerintah melalui event kreatif, pelatihan UMKM, dan penyediaan ruang publik sudah mulai terlihat, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan nyata para pelaku industri.
Kolaborasi antara pemerintah, kampus, komunitas kreatif, dan sektor swasta masih perlu diperkuat agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Industri kreatif di Kota Malang sejatinya bukan kekurangan ide, talenta, maupun semangat. Yang masih menjadi tantangan adalah membangun ekosistem yang mampu menghubungkan kreativitas dengan keberlanjutan ekonomi.
Jika potensi lokal ini dikelola secara serius dan kolaboratif, Malang bukan hanya akan dikenal sebagai kota pelajar, tetapi juga sebagai kota kreatif yang mampu bersaing di tingkat nasional. Pertanyaannya kini, apakah seluruh pihak siap bergerak bersama untuk mewujudkannya?. (*)



